Ancaman Serius Indonesia Emas 2045 Saat Remaja Diguyur Obat Terlarang, Pemuka Agama Jadi Benteng Penyelamat

- Penulis

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 03:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto kolase kegiatan remaja bimbingan ustad Fathillah. (Dok. MEDIA INVESTIGASI/ Shendy)

Foto kolase kegiatan remaja bimbingan ustad Fathillah. (Dok. MEDIA INVESTIGASI/ Shendy)

MEDIAINVESTIGASI.NET – Ancaman obat terlarang bagi generasi muda di Ibu Kota kian mengkhawatirkan. Di berbagai wilayah, toko obat keras ilegal menjamur dan beroperasi nyaris tanpa pengawasan.

Pil koplo, tramadol, hingga obat penenang dijual bebas kepada siapa saja, termasuk remaja belasan tahun, tanpa resep dokter.

Penjualannya kerap dibungkus modus sederhana. Etalase toko tampak normal, namun di dalamnya berlangsung transaksi terselubung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi ini membuat banyak remaja mudah terjerumus. Harga murah, kemudahan akses, dan pengaruh lingkungan membuat peredaran barang haram ini merambah.

Efek “melayang” yang ditawarkan menjadi pintu awal kecanduan, yang pada akhirnya mendorong sebagian anak melakukan tindak kriminal demi mendapatkan uang untuk membeli lagi.

Jika situasi ini dibiarkan, mimpi besar Indonesia Emas 2045 ketika bangsa ini diharapkan menjadi negara maju dengan sumber daya manusia unggul, terancam hanya tinggal wacana.

Generasi yang seharusnya menjadi motor kemajuan justru dirusak sejak dini oleh racun yang dijual bebas di sekitar mereka.

Di tengah lemahnya pengawasan, peran pemuka agama menjadi benteng penting. Mereka hadir langsung di tengah masyarakat, menciptakan ruang aman dan memberikan alternatif kegiatan positif bagi anak muda.

Salah satunya adalah Majelis Dzikir dan Sholawat Nurul Fata di Pisangan Baru, Jakarta Timur, yang dipimpin Ustaz Fathillah. Majelis ini menjadi tempat bagi remaja menyalurkan energi dan mencari ketenangan.

Alhamdulillah, melalui kegiatan ini mereka tidak tertarik, bahkan menjauhi obat terlarang dari dirinya sendiri, ujarnya ketika diwawancarai usai acara ratiban, Jumat (15/8/2025).

Ustaz Fathillah menjelaskan bahwa bukan ancaman atau paksaan yang membuat anak-anak yang terkena pengaruh obat mau berubah, melainkan rasa nyaman, kebersamaan, dan bimbingan yang konsisten.

“Dengan melantunkan sholawat diiringi rebana, mereka menikmati seni. Tetapi dalam konteks ibadah melalui kegiatan positif. Sehingga, mereka tidak memikirkan hal-hal negatif yang tadi disebutkan,” ungkapnya.

Baca Juga :  AMKI Kartini Award 2026 Anugerahkan Penghargaan kepada 11 Perempuan Inspiratif di Era Digital

Pengalaman ini membuktikan bahwa ketika remaja diberi pilihan sehat dan diarahkan secara berkelanjutan, mereka akan memilih mengisi waktu dengan hal bermanfaat ketimbang terjebak di warung obat terlarang atau nongkrong tanpa tujuan.

Meski demikian, pembinaan tokoh agama dan orang tua saja tidak cukup. Aparat penegak hukum harus bergerak cepat menutup dan menindak tegas toko obat keras ilegal, mulai dari penjual di lapangan hingga jaringan pemasoknya.

Tanpa langkah berani dari aparat, ancaman ini akan terus menggerogoti masa depan generasi muda dan membawa Indonesia semakin dekat pada kegagalan meraih cita-cita Indonesia Emas 2045

Editor: Shendy Marwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pondok Pesantren Alaimatul Arbaah Tak Boleh Jadi Korban Konflik, Pendidikan Santri Harus Diselamatkan
Hampir Sebulan Laporan Dugaan Pelecehan Seksual di Bone Menggantung, Publik Menanti Kepastian Hukum
Diduga Hendak Curi Motor, Pria Diamankan Warga Cimanggu Tanah Sareal
Keluarga Belum Pikirkan Praperadilan, Polres Metro Depok Ditunggu Penjelasannya
12 Perempuan Diamankan di Gang Sandiwara Kemang, Operasi Yustisi Buka Pertanyaan Baru
Dugaan Pungli Mengintai Pilkades Serentak 2026 di Bekasi, AWIBB Jabar Siapkan Laporan Polisi
Ketua Investigasi Nasional LPK GPI La Omy La Tua Tegas Minta Jajaran Penegak Hukum Polda Sulteng Jagan Bungkam Soal Kasus 36 Miliar 7 Miliar Belum Terungkap Pelakunya
Gang Sandiwara Kembali Disorot, Dugaan Perbuatan Cabul demi Keuntungan — Polsek Kemang Ditantang Buktikan Fakta
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 17:04 WIB

Pondok Pesantren Alaimatul Arbaah Tak Boleh Jadi Korban Konflik, Pendidikan Santri Harus Diselamatkan

Senin, 7 September 2026 - 11:43 WIB

Hampir Sebulan Laporan Dugaan Pelecehan Seksual di Bone Menggantung, Publik Menanti Kepastian Hukum

Minggu, 6 September 2026 - 16:39 WIB

Diduga Hendak Curi Motor, Pria Diamankan Warga Cimanggu Tanah Sareal

Sabtu, 5 September 2026 - 03:43 WIB

Keluarga Belum Pikirkan Praperadilan, Polres Metro Depok Ditunggu Penjelasannya

Jumat, 4 September 2026 - 23:09 WIB

12 Perempuan Diamankan di Gang Sandiwara Kemang, Operasi Yustisi Buka Pertanyaan Baru

Berita Terbaru