Hampir 2.000 Korban Keracunan MBG dalam 3 Hari, TINDAK Desak Sudaryono Mundur!

- Penulis

Sabtu, 5 September 2026 - 22:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA — Mediainvestigasi.net – Ketua Umum Tim Independen Untuk Demokrasi dan Anti Korupsi (TINDAK), Wiranto B. Manalu, mendesak Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono untuk mundur dari jabatannya menyusul kembali terjadinya rangkaian dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Desakan tersebut disampaikan Wiranto setelah dalam rentang 1 hingga 3 September 2026, hampir 2.000 orang—sebagian besar anak-anak, siswa, guru dan santri—diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG di sejumlah daerah.

Berdasarkan laporan BBC News Indonesia, kasus tersebut tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur; Kabupaten Rembang, Jawa Tengah; Kabupaten Agam, Sumatra Barat; Bener Meriah, Aceh; dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan. “Saya mendesak Sudaryono mundur dari jabatan Kepala BGN. Pejabat baru ternyata belum mampu membawa perubahan serius dalam tata kelola dan pengawasan MBG. Kalau persoalan keselamatan anak-anak saja tidak mampu dijamin, lebih baik mundur dan beri kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki keadaan,” tegas Wiranto B. Manalu.

Sidoarjo: 730 Korban

Salah satu kasus terbesar terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. BBC melaporkan, hingga Kamis, 3 September 2026, jumlah korban di Sidoarjo mencapai 730 orang. Sebanyak 706 orang telah diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan. Para korban diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG pada Selasa, 1 September 2026. Kasus tersebut bahkan diakui sendiri oleh Kepala BGN Sudaryono sebagai akibat adanya kelalaian dalam pelaksanaan di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sudaryono menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut dan menyebut adanya dugaan “kelalaian yang disengaja” dalam pelaksanaan prosedur.

Rembang: 777 Siswa dan Guru

Baca Juga :  Budi Arie dan Godaan Menjadi Pemerintahan Bayangan

Kasus lain terjadi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dengan korban mencapai sekitar 777 siswa dan guru setelah mengonsumsi makanan MBG. Jumlah tersebut menjadi salah satu klaster terbesar dalam rangkaian dugaan keracunan yang terjadi hanya dalam hitungan hari.

Agam: 276 Orang

Di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, BBC melaporkan sebanyak 276 orang diduga mengalami keracunan MBG. Korban terdiri dari murid jenjang SD, SMP, SMA hingga guru. Pemerintah daerah kemudian menghentikan sementara distribusi makanan dari SPPG Pasia Laweh. (Inharmonia⁠)

Bener Meriah: 16 Orang

Di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, sebanyak 16 orang, terdiri dari 15 siswa SD dan seorang kepala sekolah, dilarikan ke Puskesmas Lampahan pada Rabu, 2 September 2026. Mereka dilaporkan mengalami gejala seperti pusing, mual, gatal hingga sedikit kesulitan bernapas setelah mengonsumsi menu MBG.

Tana Toraja: 152 Orang

Sementara di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebanyak 152 orang dari dua SMP dilaporkan harus mendapatkan perawatan di tiga rumah sakit di Kota Makale. Kasus tersebut semakin memperlihatkan bahwa persoalan keamanan pangan MBG bukan lagi insiden yang berdiri sendiri, melainkan persoalan yang membutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengadaan, pengolahan, distribusi hingga pengawasan makanan.

“Ini Bukan Sekadar Kesalahan Dapur”

Wiranto menilai, persoalan tersebut tidak boleh hanya dibebankan kepada petugas dapur atau SPPG. Menurutnya, ketika kasus keracunan berulang terjadi di berbagai daerah, maka harus ada evaluasi terhadap sistem pengawasan dan tanggung jawab struktural BGN. “Tidak bisa setiap ada korban kemudian kesalahan dilempar kepada dapur atau petugas lapangan. Kepala lembaga harus bertanggung jawab terhadap sistem yang dia pimpin. Kalau SOP sudah dibuat tetapi berulang kali dilanggar dan korban terus berjatuhan, pertanyaannya adalah di mana fungsi pengawasan BGN?” ujar Wiranto.

Baca Juga :  Smart Surau Diharapkan Jadi Solusi Atasi Permasalahan Masyarakat

Wiranto juga menyoroti pernyataan Sudaryono yang menyebut bahwa sebagian besar kasus sebelumnya berkaitan dengan pelanggaran prosedur. Dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Sudaryono menyebut sekitar 80–90 persen kasus keracunan sebelumnya berkaitan dengan kegagalan mengikuti prosedur keamanan pangan, termasuk penyimpanan makanan, penerimaan bahan, pengendalian suhu dan batas waktu konsumsi.

“Kalau 80 sampai 90 persen masalahnya adalah pelanggaran SOP, berarti persoalannya bukan sekadar individu. Ini menunjukkan pengawasan dan pengendalian sistem harus dipertanyakan. Jangan menunggu korban bertambah baru bertindak,” kata Wiranto.

TINDAK: Keselamatan Anak Harus Menjadi Prioritas

TINDAK meminta pemerintah melakukan evaluasi total terhadap program MBG, khususnya mekanisme pengawasan SPPG, standar keamanan makanan, rantai distribusi, batas waktu konsumsi, serta mekanisme pertanggungjawaban ketika terjadi keracunan. Wiranto juga meminta aparat penegak hukum tidak berhenti pada pemeriksaan administratif apabila ditemukan unsur kelalaian yang menyebabkan korban mengalami gangguan kesehatan.

BBC mencatat bahwa dalam rangkaian kasus tersebut belum ada orang yang ditetapkan sebagai tersangka ketika laporan tersebut diterbitkan.

“Kami tidak sedang mempersoalkan program MBG sebagai gagasan. Kami mempersoalkan tata kelola dan keselamatan penerima manfaat. Anak-anak tidak boleh dijadikan korban dari buruknya pengawasan. Kalau Kepala BGN tidak mampu menjamin perbaikan yang serius, kami meminta Sudaryono secara gentleman mengundurkan diri,” tegas Wiranto.

Menurut Wiranto, mundur dari jabatan bukan berarti mengakui kegagalan secara pribadi, melainkan dapat menjadi bentuk pertanggungjawaban moral dan institusional ketika sebuah lembaga menghadapi persoalan serius yang menyangkut keselamatan masyarakat. “Jangan tunggu korban berikutnya. Jangan tunggu ada korban meninggal. Pemerintah harus bertindak sekarang. Evaluasi total MBG atau ganti kepemimpinan BGN,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dugaan Penampungan Pertalite untuk Dijual Kembali di Caringin Jadi Sorotan
Gadai Mobil Berujung Petaka! Tagihan Membengkak, Nissan March Diduga Dilelang Diam-Diam, Direktur Perusahaan Dipolisikan
Warga Srijaya keluhkan irigasi air kering kepada anggota DPRD OKUT I Ketut budiyasa pada saat Reses didesa
Perkuat Keterbukaan Informasi Publik, Padang Pariaman Sosialisasikan KIPPRAH hingga Kecamatan dan Puskesmas
Tembus Gelombang dan Lumpur: Kodim 0314/Inhil Pasok Material TMMD Ke-130 ke Desa Kuala Lemang
Kawal Mutu Pembangunan TMMD ke-130: Pengujian Sampel Silinder Beton Pengecoran Jalan Desa Kuala Lemang
Gus Muhaimin Ungkap Kegelisahan saat Sowan UAS: Perpecahan Umat Tak Hasilkan Apa-Apa
Ketua Investigasi LPK GPI Tegas Minta Hentikan Tambang Pasir Ilegal Air Beringin Jaya  Meluap Merusak Ruas Jalan Pemilik Tambang Di Tegur Malah Melotot
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 07:56 WIB

Dugaan Penampungan Pertalite untuk Dijual Kembali di Caringin Jadi Sorotan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:17 WIB

Gadai Mobil Berujung Petaka! Tagihan Membengkak, Nissan March Diduga Dilelang Diam-Diam, Direktur Perusahaan Dipolisikan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Warga Srijaya keluhkan irigasi air kering kepada anggota DPRD OKUT I Ketut budiyasa pada saat Reses didesa

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:23 WIB

Perkuat Keterbukaan Informasi Publik, Padang Pariaman Sosialisasikan KIPPRAH hingga Kecamatan dan Puskesmas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Tembus Gelombang dan Lumpur: Kodim 0314/Inhil Pasok Material TMMD Ke-130 ke Desa Kuala Lemang

Berita Terbaru