Bedah Buku Generasi Hijauku: Merawat Alam, Menjaga Identitas, Menumbuhkan Kesadaran

- Penulis

Senin, 2 Februari 2026 - 00:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bedah Buku Generasi Hijauku: Merawat Alam, Menjaga Identitas, Menumbuhkan Kesadaran

Gayo Lues 1 Februari 2026 —Mediainvestigasi.net– Upaya membangun kesadaran ekologis tidak cukup hanya dengan seruan moral atau kampanye sesaat. Dibutuhkan ruang literasi yang mampu menghubungkan pengetahuan, nilai, dan tindakan. Hal inilah yang mengemuka dalam kegiatan Bedah Buku Generasi Hijauku (Episode 1) yang menghadirkan Syahputra Ariga, Ketua Umum Perkumpulan Mahasiswa Gayo Lues Se-Indonesia (PMGI), sebagai pemateri utama.

Dalam pemaparannya, Syahputra Ariga menegaskan bahwa buku Generasi Hijauku tidak sekadar berbicara tentang lingkungan sebagai objek konservasi, melainkan memposisikan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Gayo. “Alam bukan hanya sumber daya ekonomi, tetapi ruang hidup yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berelasi. Ketika alam rusak, yang hilang bukan hanya fungsi ekologis, tetapi juga jati diri kolektif,” ujarnya.

Diskusi mengupas bagaimana perubahan cara pandang manusia terhadap alam—dari identitas menjadi komoditas—telah melahirkan berbagai krisis lingkungan. Kerusakan hutan, krisis air, konflik satwa, hingga pertanian yang tidak berkelanjutan dipahami sebagai “luka alam” yang berakar dari luka sosial: keserakahan, ketimpangan, dan hilangnya etika hidup.

Buku ini juga menyoroti memudarnya nilai-nilai adat Gayo seperti Kemali, Sumang, dan Edet yang dahulu berfungsi sebagai pagar moral dalam menjaga relasi manusia dengan alam. Syahputra Ariga menekankan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari krisis nilai. “Adat tidak boleh diposisikan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai nilai hidup yang kontekstual dan relevan dengan tantangan hari ini,” katanya.

Dalam konteks modernitas, diskusi menempatkan pemuda Gayo pada posisi strategis. Arus teknologi, media sosial, dan budaya global tidak dipandang sebagai ancaman mutlak, melainkan tantangan yang harus direspons dengan kesadaran identitas. Pemuda dituntut mampu berinovasi tanpa tercerabut dari akar budaya dan nilai ekologis. Modernitas yang tercerabut dari nilai, menurut buku ini, justru berpotensi mempercepat kerusakan alam dan krisis sosial.

Baca Juga :  Penumpang Bus ALS Meninggal Dunia, Sempat Minta Berobat, Sopir Diduga Paksakan Perjalanan Hingga Pulau Punjung

Isu kopi Gayo menjadi salah satu bahasan penting. Kopi tidak hanya dipahami sebagai komoditas unggulan, tetapi simbol relasi manusia dengan tanah. Ketika dikelola tanpa etika ekologis, tanah menjadi lelah dan rentan rusak. Sebaliknya, praktik kopi berkelanjutan dapat menjadi jalan kemandirian ekonomi sekaligus pelestarian alam. Diskusi juga menyoroti lemahnya posisi tawar petani dalam rantai ekonomi kopi dan pentingnya membangun ekonomi hijau yang adil.

Lebih jauh, Generasi Hijauku menekankan pendidikan hijau sebagai jalan panjang perubahan. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses di ruang kelas, tetapi juga melalui keluarga, komunitas, dan ruang-ruang literasi. “Literasi adalah jantung perubahan. Dengan membaca, berdiskusi, dan menulis, kesadaran ekologis tumbuh secara kritis, bukan dogmatis,” ujar Syahputra Ariga.

Dimensi spiritual turut menjadi landasan penting dalam diskusi. Menjaga alam dipahami sebagai bagian dari iman dan amanah Tuhan. Alam adalah ayat kehidupan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas. Namun, tantangan terbesar adalah ketika pesan moral dan agama sering kali kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Menutup diskusi, buku ini mengajak pembaca melampaui wacana menuju tindakan nyata. Menjadi “Generasi Hijau” berarti berani memulai dari langkah kecil—dari kesadaran diri, komunitas, hingga gerakan kolektif. Seperti ditegaskan pemateri, “Kita bisa mengamalkan semua nilai itu apabila kita yakin dengan iman, mengusahakan dengan ilmu, dan menyampaikan dengan amal. Maka yakin, usaha sampai.”

Bedah buku ini menjadi penegasan bahwa literasi bukan hanya soal membaca teks, tetapi membaca realitas. Menjaga alam berarti menjaga manusia, budaya, dan harapan generasi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dorong Generasi Berprestasi, Bupati JKA Jadikan Olahraga Benteng Cegah Kenakalan Remaja
MIRIS! Koordinator MBG Pelalawan Sulit Ditemui dan Angkat Telepon, Korcam Pangkalan Kuras Diduga Alergi Blokir Nomor Satgas Wasmas PKN
Cabor Catur Kontingen PGRI Inhil Sukses Amankan Mendali Emas di PorsenijarH Fauzan Amrullah : Prestasi ini Untuk Pendidikan Inhil Hebat
Penertiban Kabel Semrawut Inhil Belum Tuntas, Icon Plus Mulai Siapkan Surat Peringatan
KONDISI KANTOR BPP PALEMBAYAN AGAM RETAK, KEPALA UPT PAK DONI AKUI: BELUM ADA JAM KERJA
Wujudkan Pelayanan Masyarakat dan Kepastian Hukum, Pemkab dan DPRD Tapanuli Tengah Sepakati 3 Ranperda
Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak Saat Bencana, Dinas PPPA Tapteng Bersama Kementerian PPPA dan Yayasan Pulih Gelar Sosialisasi Draf SK Subklaster PP KBG PP
Kapolres Sibolga dan Kapolres Tapanuli Tengah Sambangi Makodim 0211/Tapanuli Tengah, Perkuat Sinergitas TNI-Polri
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 11:35 WIB

Dorong Generasi Berprestasi, Bupati JKA Jadikan Olahraga Benteng Cegah Kenakalan Remaja

Kamis, 24 September 2026 - 09:34 WIB

MIRIS! Koordinator MBG Pelalawan Sulit Ditemui dan Angkat Telepon, Korcam Pangkalan Kuras Diduga Alergi Blokir Nomor Satgas Wasmas PKN

Kamis, 24 September 2026 - 05:30 WIB

Cabor Catur Kontingen PGRI Inhil Sukses Amankan Mendali Emas di PorsenijarH Fauzan Amrullah : Prestasi ini Untuk Pendidikan Inhil Hebat

Kamis, 24 September 2026 - 05:25 WIB

Penertiban Kabel Semrawut Inhil Belum Tuntas, Icon Plus Mulai Siapkan Surat Peringatan

Rabu, 23 September 2026 - 23:18 WIB

KONDISI KANTOR BPP PALEMBAYAN AGAM RETAK, KEPALA UPT PAK DONI AKUI: BELUM ADA JAM KERJA

Berita Terbaru