Berita

Bos BGN Ungkap! 50% Kasus Keracunan Makanan di Indonesia Gara-Gara E. Coli dari Air Kotor

305
×

Bos BGN Ungkap! 50% Kasus Keracunan Makanan di Indonesia Gara-Gara E. Coli dari Air Kotor

Sebarkan artikel ini

Foto: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. (REUTERS/Willy Kurniawan)

 

JAKARTA, MEDIAINVESTIGASI.NET – Buat kamu yang sering makan di luar, hati-hati ya! Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, buka-bukaan soal penyebab utama keracunan makanan di Indonesia.

Ternyata, biang kerok utamanya adalah bakteri Escherichia coli (E.Coli) yang berasal dari air terkontaminasi.

“Dari hasil kajian Kemenkes, 50% kejadian keracunan pangan di Indonesia disebabkan oleh cemaran E.Coli yang bersumber dari air,” kata Dadan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (12/11/2025).

 

441 Kasus Keracunan, Hampir Separuhnya dari Program MBG

Dari data yang dipaparkan BGN, total kasus keracunan pangan di Indonesia mencapai 441 kejadian.

Dari jumlah itu, 221 kasus atau sekitar 48% berkaitan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan data:

BGN mencatat 11.640 penerima manfaat MBG mengalami kasus keracunan.

 

Kemenkes mencatat lebih tinggi, yakni 13.371 orang.

Walau begitu, Dadan menegaskan bahwa pihaknya sudah bergerak cepat untuk memperketat standar keamanan dan higienitas makanan di seluruh dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

 

Semua Wadah Makanan Harus Steril, Suhunya Capai 120°C!

Biar nggak kejadian lagi, Dadan mewajibkan semua SPPG menggunakan alat sterilisasi untuk food tray (wadah makanan).

Alat ini bisa menghasilkan uap panas hingga 120 derajat Celsius, sehingga wadah cepat kering dan steril dari bakteri.

“Seperti lemari sterilisasi, yang punya uap panas tinggi untuk memastikan food tray benar-benar aman,” jelasnya.

 

Air Masak Wajib Bersertifikat!

Selain alat makan, sumber air juga jadi perhatian utama. Dadan menegaskan bahwa setiap dapur MBG wajib menggunakan air yang sudah tersertifikasi—baik air kemasan maupun air isi ulang yang sudah melalui proses sterilisasi.

“Air isi ulang boleh, tapi harus punya alat untuk mensterilkan air tersebut,” tegas Dadan.

 

1.619 Dapur MBG Sudah Kantongi Sertifikat Higienis

BGN juga memastikan bahwa setiap SPPG harus memiliki Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS) sebagai bukti kelayakan dapur.

Hingga kini, sudah ada 1.619 dapur MBG yang berhasil mendapatkan sertifikat tersebut.

“Kecepatan penerbitan sertifikatnya tergantung pemda masing-masing. Tapi kami pastikan semua praktik higienitas sudah diperketat dalam juknis terbaru,” tambah Dadan.

 

Fokus BGN: Makanan Aman, Gizi Terpenuhi!

Dengan berbagai langkah ini, BGN menargetkan agar program Makan Bergizi Gratis bukan cuma mengenyangkan, tapi juga aman, higienis, dan bebas kontaminasi.

 

Langkah-langkah yang lagi digas terus oleh BGN:

Sterilisasi alat makan dan dapur dengan suhu tinggi

Air masak harus tersertifikasi

Wajib punya SLHS

Pengawasan intens bareng pemda dan Dinas Kesehatan

 

Quick Facts (Biar Kamu Nggak Ketinggalan Info!)

Penyebab utama keracunan makanan: Bakteri E.Coli dari air tercemar

Kasus total: 441 kejadian

Kasus MBG: 221 kejadian (48%)

SPPG tersertifikasi higienis: 1.619 titik

Solusi utama: Sterilisasi & air bersertifikat

Dengan semua upaya itu, BGN berharap kasus keracunan makanan di Indonesia bisa turun drastis, dan anak-anak penerima manfaat MBG bisa menikmati makanan yang sehat, aman, dan penuh gizi. (***)

 

Editor: Rully Firmansyah