BeritaDaerahHukumKriminal

Pengakuan Tragis Ibu Pelajar Kelas 1 SD Korban Dugaan Bullying di Pariaman: Tertekan, Hingga Ubah Cerita

1433
×

Pengakuan Tragis Ibu Pelajar Kelas 1 SD Korban Dugaan Bullying di Pariaman: Tertekan, Hingga Ubah Cerita

Sebarkan artikel ini

Foto: Ilustrasi Seorang Anak Pelajar SD 

Pariaman, MediaInvestigasi.Net – Ibu murid Sekolah Dasar (SD) kelas 1 di Pariaman yang diduga menjadi korban perundungan (bullying) kakak kelas mengaku terpaksa mengubah cerita. Hal itu semata-mata agar kedua anaknya bisa melanjutkan sekolah tanpa beban.

Sumbarkita mengunjungi keluarga korban pada Kamis (28/9/2023). Ibu korban yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga itu menceritakan kronologi kejadian sambil berurai air mata. Ibu korban tak mau namanya disebutkan di pemberitaan. Sumbarkita menginisialkan namanya dengan A.

A memulai cerita dari saat dirinya diminta untuk menyampaikan klarifikasi di sekolah tempat dua anaknya menuntut ilmu. Saat itu dirinya diminta menghadap Kepala Sekolah dan pihak lainnya.

Ia merasa tertekan dan terintimidasi. Kepada wartawan yang hadir menemui dirinya, A terpaksa menuturkan cerita yang berbeda. Padahal kenyataannya tidak seperti yang diceritakan.

“Kejadian sebenarnya, saat itu resleting anak saya terbuka. Lalu beberapa murid kelas 5 menertawakan anak saya. Salah satu murid kelas 5 juga langsung menanggalkan celana anak saya. Anak saya juga disiram pakai air. Peristiwa itu terjadi di depan warung kawasan sekolah,” ungkap A.

Mendengar cerita anaknya dibully dadanya rasa terbakar.

“Ibu mana yang mau anaknya digitukan. Rusak mental anak saya. Saat dilaporkan kepada kepala sekolah, langsung mereka dipanggil,” katanya.

Korban lalu disuruh menunjuk kakak kelasnya yang telah membully.

“Saat anak saya mau menunjuk pelaku, kepala sekolah mencecar anak dengan pertanyaan. Kepala sekolah juga marah kepada saya,” katanya.

Kepala sekolah mengatakan biar kasus itu sekolah yang menangani.

“Serahkan saja ke kami (sekolah), jangan ibu ikut campur,” kata ibu korban menirukan kalimat kepala sekolah.

Saat itu lah kepala sekolah marah kepada ibu korban dan pergi berlalu.

Ia juga membeberkan peristiwa itu tidak hanya menimpa anaknya saja namun anak lainnya juga ada yang dibully.

“Kalau soal air kencing itu bukan anak saya mungkin korban lainnya. Lagian pelaku tidak hanya satu orang,” ujarnya.

Sementara itu saat klarifikasi di sekolah yang cendrung tidak memihak korban, pelaku dihadirkan namun orang tua pelaku tidak ada.

Beberapa pihak menyayangkan langkah menelisik persoalan ini dengan menajamkan interogasi kepada korban. Untuk diketahui hingga saat ini pihak pelaku belum dimintai keterangan.

Ibu korban juga merasa terpukul dengan pemberitaan yang mengatakan bahwa ia orang yang berada atau beruang.

Diketahui, ibu korban menghidupkan kedua anaknya yang masih sekolah SD dengan cara bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di Pariaman.

Terlepas kasus dugaan perundungan, tak sengaja ibu korban juga membuka kasus lain yang terjadi di sekolah tersebut.

Menurut A, Kartu Indonesia Pintar (KIP) anaknya yang duduk di kelas 3 ditahan pihak sekolah. Anaknya tidak menerima uang KIP lagi. Padahal ia masih memiliki buku bank, namun ATM dipegang pihak sekolah.

Mengenai KIP itu pernah ditanyakannya ke kepala sekolah. Ia menanyakan ke kepala sekolah kenapa ada penarikan KIP anaknya padahal ia tidak pernah melakukan penarikan.

“Kata kepala sekolah, uang itu kan telah kamu tarik. Mana tau saya. Itu kata kepala sekolah, padahal saya cuma mengambil uang itu waktu anak kelas 1. Dari kelas 2 sampai sekarang tidak ada saya yang ambil,” ujarnya.

Kasus ini sangat menyita perhatian publik. Banyak pihak yang merasa janggal dengan berbagai isu yang beredar. Klarifikasi dari pihak terkait lainnya akan disampaikan melalui berita selanjutnya.

Redaksi Mediainvestigasi.net