laporan : Muhammad
Inhu – Mediainvestigasi.net – Jeritan pilu petani terjadi di Desa Sungai Raya Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu)-Riau, lebih dari 150 hektare kebun kelapa sawit milik masyarakat telah mengalami pengrusakan secara brutal sejak Juli hingga Oktober 2026 dan sudah diganti dengan tanaman kelapa sawit atas perintah Supri Handayani alias Ando.
Ribuan batang kelapa sawit yang selama bertahun-tahun menjadi harap warga disebut tumbang setelah sejumlah alat berat jenis ekskavator masuk ke areal perkebunan. Tanaman yang sebelumnya dirawat telah berganti dengan tanaman kelapa sawit baru.
Ironisnya, menurut keterangan warga, pengrusakan tersebut diduga dikawal oleh puluhan hingga lebih dari seratus orang yang mereka sebut sebagai kelompok preman bayaran atas suruhan Ando yang merupakan warga Sekip Hilir.
Keterangan itu disampaikan Samsir (52), salah seorang petani yang mengaku menjadi korban dalam konflik tersebut, Kamis (8/10/2026).
Menurut Samsir, ratusan orang disebut dikerahkan untuk mengawal aktivitas di areal perkebunan masyarakat. Samsir bahkan menyebut adanya pembayaran pereman suruhan Ando sekitar Rp150 ribu per orang setiap hari.
”Lebih dari seratus orang disebut dikerahkan untuk mengawal pengrusakan kebun petani di Sungai Raya. Mereka mendapat upah sekitar Rp150 ribu per orang setiap hari, termasuk untuk mengawal alat berat yang disewa Ando,” ujar Samsir.
Samsir juga mengungkapkan, persoalan tidak hanya menyangkut tanaman sawit. Sejumlah rumah dan pondok milik petani juga ditempati oleh orang-orang bayaran yang berada di lokasi.
Kondisi tersebut membuat warga merasa tertekan dan khawatir mempertahankan lahan maupun tanaman yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka.
”Kami minta Ando ditangkap jika memang terbukti terlibat. Seluruh kebun kelapa sawit petani yang dirusak harus diganti,” tegas Samsir.
Kesaksian serupa disampaikan Sahnan, warga Sekip Hilir yang akrab dipanggil Pak Plentis. Dia mengaku mengetahui dan menyaksikan kondisi kebun masyarakat di Desa Sungai Raya dirusak kerusakan.
Sahnan mengatakan, persoalan tersebut tidak boleh berhenti hanya pada kerusakan tanaman. Menurutnya, harus ada pertanggungjawaban dan ganti rugi terhadap petani yang merasa kehilangan sumber mata pencaharian.
”Harus ada ganti rugi atas pengrusakan kebun petani di Sungai Raya. Kalau memang ada pelaku yang melakukan pengrusakan, harus diproses dan ditangkap sesuai hukum,” kata Plentis.
Plentis juga menyebut adanya dugaan penganiayaan terhadap petani yang berusaha mempertahankan haknya di lokasi kebun tersebut.
Menurut Plentis, laporan terkait dugaan penganiayaan maupun persoalan pengrusakan kebun telah disampaikan kepada pihak kepolisian oleh korban. Namun, Plentis mempertanyakan mengapa pihak yang diduga bertanggung jawab atas pengrusakan kebun masyarakat belum juga ditangkap.
”Korban penganiayaan dan korban pengrusakan kebun sudah melapor ke Polres Inhu. Tetapi sampai sekarang, pelaku pengrusakan kebun petani belum ditangkap,” ujarnya.
Konflik yang berlarut-larut tersebut membuat petani berharap persoalan lahan di Sungai Raya mendapat perhatian serius pemerintah pusat maupun aparat penegak hukum.
Samsir dan Plentis berharap Presiden Prabowo Subianto bersama Kapolri dapat memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut, termasuk memeriksa secara menyeluruh dokumen maupun dasar penguasaan lahan yang menjadi landasan aktivitas di lapangan oleh kelompok suruhan Ando.
”Kami berharap pemerintah pusat turun tangan. Presiden bersama Kapolri haruslah melihat langsung kondisi petani di Sungai Raya dan memeriksa dokumen yang dimiliki pihak-pihak yang mengklaim atau menguasai lahan tersebut atas suruhan Ando,” harap Plentis.
Para petani juga meminta aparat penegak hukum tidak hanya melihat persoalan tersebut dari satu sisi. Mereka berharap seluruh pihak yang diduga terlibat dalam pengrusakan tanaman, intimidasi maupun kekerasan terhadap petani diperiksa berdasarkan bukti dan keterangan para saksi.
Hingga berita ini diturunkan, tudingan mengenai keterlibatan Supri Handayani alias Ando serta jumlah pereman bayaran yang disebutkan para petani tersebut masih merupakan keterangan dari pihak yang mengaku sebagai korban. Konfirmasi Supri Handayani alias Ando yang merupakan dosen di ITB Rengat belum berhasil dikonfirmasi.






