Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pasaman Dorong Budaya Lokal Menjadi Warisan Lewat Tulisan
Lubuk Sikaping, mediainvestigasi.net —
Budaya boleh hidup dalam ingatan, tetapi tulisan membuatnya mampu menyeberangi zaman.
Semangat itulah yang coba dibangun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pasaman melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat gerakan literasi sekaligus mendorong masyarakat Pasaman mengabadikan kekayaan budaya daerah melalui karya tulis.
Pasaman memiliki cerita yang panjang. Ada adat dan tradisi, kesenian, kuliner, sejarah, hingga kearifan lokal yang tumbuh dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, tanpa dokumentasi, cerita-cerita itu perlahan dapat tergerus oleh perubahan zaman.
Karena itu, melalui Bimtek tersebut, masyarakat diajak bukan sekadar menjadi pembaca, tetapi juga menjadi penulis yang mampu merekam wajah Pasaman melalui kata-kata.
Ketua Panitia Bimtek, Hulda Marina, SE, MM, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memiliki sejumlah tujuan penting, di antaranya meningkatkan kapasitas penulis pemula, memperbanyak penulis kreatif daerah yang mampu mengangkat dan melestarikan kearifan lokal, serta mengembangkan konten literasi berbasis budaya daerah.
Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem kepenulisan di Kabupaten Pasaman, sehingga lahir lebih banyak karya yang tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga memiliki nilai dokumentasi dan sejarah bagi daerah.
“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas penulis pemula, meningkatkan jumlah penulis kreatif daerah yang dapat melestarikan kearifan lokal, mengembangkan konten literasi berbasis kearifan lokal, serta menciptakan ekosistem kepenulisan di daerah,” ujar Hulda Marina.
Bimtek tersebut dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan, yakni pada 12, 19 dan 28 Oktober 2026, dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan penggiat literasi, penulis, serta dosen Universitas Negeri Padang.
Menariknya, peserta yang mengikuti kegiatan ini tidak langsung dipilih begitu saja. Dari lebih dari 200 orang yang mengirimkan naskah tulisan sebagai bagian dari proses pendaftaran, panitia melakukan penilaian dan seleksi hingga akhirnya menetapkan 60 peserta untuk mengikuti Bimtek.
Menurut Hulda, proses tersebut dilakukan agar peserta yang mengikuti kegiatan benar-benar memiliki minat dan potensi dalam dunia kepenulisan.
Ketika Budaya Tak Sekadar Dikenang
Sementara itu, Bupati Pasaman dalam sambutannya menegaskan bahwa Kabupaten Pasaman memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam.
Mulai dari kesenian, kuliner, adat istiadat hingga perjalanan sejarah daerah, semuanya merupakan bagian dari identitas Pasaman yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, kekayaan tersebut tidak cukup hanya dikenang atau diceritakan dari mulut ke mulut. Budaya harus dituliskan agar jejaknya tetap dapat ditemukan oleh generasi mendatang.
“Pasaman mempunyai keberagaman budaya, kesenian, kuliner dan sejarah. Semua itu tidak bisa sekadar dikenang, tetapi harus dituliskan agar tidak hilang dimakan masa,” ungkapnya.
Ia berharap Bimtek kepenulisan tersebut mampu melahirkan tulisan-tulisan yang mengangkat kekayaan lokal Pasaman, sehingga nantinya dapat dihimpun dan dibukukan sebagai bagian dari warisan sejarah daerah.
“Dengan Bimtek ini saya berharap budaya lokal dapat diangkat menjadi sebuah tulisan. Karya-karya tersebut nantinya bisa dibukukan dan menjadi warisan sejarah yang selalu dikenang oleh generasi Pasaman berikutnya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang menjaga ingatan sebuah daerah.
Sebab, ketika sebuah budaya ditulis, ia tidak lagi hanya tinggal dalam cerita. Ia berubah menjadi dokumen, menjadi pengetahuan, dan menjadi warisan yang dapat dibaca oleh anak cucu.
Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal itu kemudian secara resmi dibuka oleh Bupati Pasaman. Tepuk tangan para peserta mengiringi pembukaan kegiatan yang diharapkan menjadi awal lahirnya penulis-penulis baru dari Ranah Pasaman.
Dari sebuah kata, lahir cerita.
Dari sebuah cerita, tersimpan sejarah.
Dan dari tulisan, budaya Pasaman diharapkan tetap hidup melintasi zaman.
Biro Pasaman Raya
Penulis : Rakiman
Editor : Rafdy Guci






