Ketika Budaya Hanya Indah di Atas Kertas
Oleh : Rakiman
Kabiro mediainvestigasi.net
Budaya Mendengar.
Katanya, setiap suara layak didengar agar setiap insan merasa dihargai. Namun kenyataannya, yang benar-benar didengar hanyalah suara yang seirama. Yang berbeda, sering kali hanya menjadi gema yang hilang sebelum sempat dipahami.
Budaya Berbagi
Ilmu konon adalah cahaya yang seharusnya menerangi siapa saja. Namun tak jarang cahaya itu sengaja disimpan, hanya dinyalakan untuk lingkaran yang dianggap paling dekat, sementara yang lain dibiarkan mencari jalan dalam gelap.
Budaya Mengapresiasi.
Kontribusi sekecil apa pun seharusnya mendapat penghormatan. Sayangnya, tepuk tangan sering kali tidak diberikan kepada mereka yang bekerja, melainkan kepada mereka yang memiliki kedekatan. Pengorbanan menjadi tak terlihat ketika tidak berada dalam barisan yang sama.
Budaya Bertumbuh. Kesalahan seharusnya menjadi guru yang mendewasakan. Namun di banyak tempat, kesalahan hanya menjadi alasan untuk menghakimi sebagian orang, sementara bagi yang dekat, ia berubah menjadi sesuatu yang mudah dimaafkan.
Budaya Kolaboratif
Keberhasilan seharusnya menjadi milik bersama. Tetapi ketika hasil datang, nama-nama tertentu berdiri di depan panggung, sedangkan tangan-tangan yang ikut membangun hanya menjadi bayangan yang terlupakan.
Begitulah, nilai-nilai yang indah sering menghiasi dinding, spanduk, dan pidato. Namun bila hanya berhenti menjadi rangkaian kata, ia tak lebih dari hiasan yang memanjakan mata. Sebab budaya sejati tidak lahir dari slogan, melainkan dari keberanian berlaku adil kepada semua, tanpa membedakan siapa yang dekat dan siapa yang hanya datang dengan ketulusan.











