Matudang Tudangeng Umpungeng: Syukuran Panen, Perekat Persaudaraan, dan Pelestarian Budaya.
SOPPENG, Mediainvestigasi.net — Tradisi dan rasa syukur berpadu dalam pelaksanaan Matudang Tudangeng di Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Sabtu–Minggu (31 Oktober–1 November 2026). Tak sekadar menjadi perayaan selepas panen, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, merawat kebersamaan, dan menjaga warisan budaya leluhur.
Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola Badawi, Dusun Waessuru, tersebut diikuti masyarakat bersama tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Suasana penuh keakraban mewarnai rangkaian kegiatan yang sarat dengan nilai kekeluargaan itu.
Kepala Desa Umpungeng, Shalahuddin, S.Ag., menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurutnya, Matudang Tudangeng merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan, sekaligus cerminan persatuan dan kebersamaan masyarakat Desa Umpungeng.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan dalam kehidupan masyarakat tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari kuatnya ikatan sosial dan semangat warga dalam menjaga keharmonisan desa.
Bagi masyarakat agraris, pesta panen memiliki makna mendalam. Di balik hasil pertanian, terdapat kerja keras petani, ketekunan mengolah lahan, serta ikhtiar menghadapi berbagai tantangan alam. Karena itu, momentum syukuran menjadi kesempatan untuk mensyukuri hasil yang diperoleh sekaligus memanjatkan doa agar keberkahan dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat.
Rembuk Warga, Ibadah, dan Mappadendang
Rangkaian Matudang Tudangeng tidak hanya diisi dengan perayaan, tetapi juga kegiatan yang memperkuat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

Rembuk bersama antara pemerintah desa dan warga menjadi salah satu agenda kegiatan. Forum ini membuka ruang komunikasi, mempererat hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kehidupan dan pembangunan desa.
Nuansa religius turut mewarnai kegiatan melalui salat berjamaah yang dilanjutkan dengan ceramah agama oleh Dr. Musmuliadi, S.Ag., M.Pd.I. Rangkaian tersebut menjadi pengingat bahwa rasa syukur tidak cukup diungkapkan melalui ucapan dan perayaan, tetapi juga perlu diwujudkan dalam ibadah serta perilaku baik sehari-hari.
Kemeriahan semakin terasa melalui pertunjukan Mappadendang, kesenian tradisional Bugis yang menghadirkan irama khas dari alu yang ditumbukkan secara bergantian ke dalam lesung. Perpaduan bunyi ritmis dan gerakan para peserta menciptakan suasana semarak yang menghidupkan kebersamaan warga.
Lebih dari sekadar hiburan, Mappadendang merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Bugis yang perlu terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda.
Tradisi Terjaga, Desa Tetap Berbudaya
Pelaksanaan Matudang Tudangeng di Umpungeng menjadi pengingat bahwa kekuatan desa tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan capaian ekonomi. Gotong royong, kepedulian, rasa saling percaya, dan persaudaraan juga merupakan modal sosial penting dalam membangun masyarakat yang harmonis.
Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti Matudang Tudangeng memiliki peran strategis dalam menjaga hubungan antargenerasi sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat setempat.
Harapannya, tradisi ini terus terpelihara, hasil pertanian masyarakat semakin baik, kesejahteraan petani meningkat, dan kerukunan warga Desa Umpungeng senantiasa terjaga.
Sebab, desa yang kuat bukan hanya desa yang terus berkembang, melainkan juga desa yang mampu merawat kebersamaan dan menjaga akar budayanya. ***(MTq)
Penulis : Muh.Tariqullah
Editor : Rafdy Guci







