King Maker atau Trouble Maker di Lingkar Dalam Istana

- Penulis

Sabtu, 21 Maret 2026 - 00:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

King Maker atau Trouble Maker di Lingkar Dalam Istana

Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

Mediainvestigasi.net–Budaya politik Indonesia tidak sepenuhnya beranjak dari bayang-bayang feodalisme. Dalam praktiknya, relasi kekuasaan di sekitar presiden kerap menyerupai pola monarki modern, yakni akses yang terbatas, komunikasi yang tersaring, dan keputusan yang dipengaruhi oleh lingkar dalam yang tidak selalu terlihat oleh publik. Di ruang inilah sosok yang kerap disebut king maker menemukan relevansinya, dimana figur informal dengan daya jangkau yang sering kali melampaui struktur resmi negara.

Secara historis, fenomena ini bukan barang baru. Pada masa awal Orde Baru, konfigurasi kekuasaan memperlihatkan bagaimana aktor non struktural dapat memainkan peran strategis dalam menentukan arah kebijakan dan konfigurasi politik nasional. Mereka tidak selalu tampil di panggung depan, tetapi memiliki kendali atas siapa yang boleh masuk, siapa yang disisihkan, dan kepentingan mana yang diprioritaskan. Dalam perspektif intelijen politik, posisi ini identik dengan gatekeeper of power, sebagai penjaga gerbang yang mengendalikan arus informasi dan akses terhadap pemimpin tertinggi.

Di era kekuasaan kontemporer, pola serupa kembali menemukan momentumnya. Lingkar dalam presiden tidak lagi sekadar diisi oleh pejabat formal, melainkan juga oleh individu-individu yang memiliki kedekatan personal, loyalitas politik, atau kontribusi strategis dalam proses elektoral. Dari sinilah kemudian muncul istilah “orang dalam”, sebuah label yang secara implisit mengandung otoritas informal namun efektif.

Masalahnya, otoritas informal yang tidak terlembagakan justru berpotensi melahirkan distorsi kekuasaan. Tanpa mekanisme akuntabilitas yang jelas, seorang king maker dapat memperluas perannya dari sekadar penghubung menjadi pengendali. Dalam sejumlah indikasi yang berkembang di ruang publik, terlihat adanya kecenderungan sebagian aktor lingkar dalam tidak hanya mengelola akses politik, tetapi juga memasuki wilayah ekonomi dan opini publik.

Baca Juga :  Pemkab Padang Pariaman Tutup 2025 dengan Diskusi, Evaluasi, dan Doa Bersama, Fokus Bangkit dari Bencana.

Ekspansi pengaruh ke sektor ekonomi, khususnya pada entitas strategis seperti BUMN, menunjukkan adanya praktik state capture dalam skala mikro, dimana keputusan bisnis dan penempatan jabatan tidak sepenuhnya didasarkan pada meritokrasi, melainkan kedekatan dan loyalitas. Dalam kajian ekonomi-politik, fenomena ini kerap menjadi pintu masuk bagi terbentuknya oligarki baru yang beroperasi di balik legitimasi kekuasaan formal.

Di sisi lain, pengaruh terhadap opini publik juga menjadi instrumen penting. Pemanfaatan buzzer politik dan influencer untuk membentuk narasi tertentu bukan lagi hal baru dalam demokrasi digital. Namun, ketika instrumen ini digunakan untuk mendeligitimasi kritik, menyerang kelompok sipil, atau membangun propaganda yang tidak berbasis fakta, maka yang terjadi bukan lagi penguatan demokrasi, melainkan erosi rasionalitas publik. Polarisasi sosial menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

Lebih jauh, pendekatan koersif yang memanfaatkan instrumen hukum untuk menekan kelompok yang tidak sejalan menandakan adanya gejala weaponization of law. Dalam studi intelijen, ini dikenal sebagai penggunaan aparatur negara untuk tujuan politik sempit, yaitu sebuah praktik yang berbahaya karena merusak kepercayaan publik terhadap institusi hukum itu sendiri. Loyalitas yang dibangun melalui tekanan atau transaksi finansial pada akhirnya hanya akan melahirkan kepatuhan semu, bukan dukungan substantif.

Dalam jangka panjang, konfigurasi kekuasaan seperti ini menyimpan risiko laten. Ketika seorang king maker menjadi terlalu dominan, ia tidak lagi sekadar menjadi penopang kekuasaan, melainkan berpotensi menjadi pusat kekuasaan alternatif. Situasi ini menciptakan apa yang dalam literatur politik disebut sebagai dual power syndrome, yakni dua pusat pengaruh dalam satu pemerintahan. Kondisi demikian tidak hanya melemahkan otoritas presiden, tetapi juga membuka ruang konflik internal yang sulit dikendalikan.

Sejarah politik Indonesia memberikan pelajaran penting: kekuasaan yang tampak kokoh dari luar sering kali runtuh bukan karena tekanan eksternal, melainkan oleh retakan dari dalam. Loyalitas yang bersifat transaksional tidak memiliki daya tahan dalam situasi krisis. Ketika kepentingan berubah, barisan pendukung pun dapat berbalik arah.

Baca Juga :  UNS Home Coming 2026: Momentum Perdana Konsolidasi Alumni Nasional di Bawah Kepemimpinan Prof. Zudan

Pada titik ini, relevan untuk mengajukan pertanyaan mendasar, apakah kehadiran king maker masih berfungsi sebagai penguat stabilitas kekuasaan, atau justru telah bertransformasi menjadi trouble maker yang menggerogoti legitimasi dari dalam?

Jawabannya sangat bergantung pada satu hal, sejauh mana presiden mampu menjaga keseimbangan antara kepercayaan dan kontrol. Tanpa itu, lingkar dalam yang seharusnya menjadi benteng justru bisa berubah menjadi sumber kerentanan paling berbahaya dalam struktur kekuasaan negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sekdakab Tapanuli Tengah Letakan Batu Pertama Pembangunan 22 Unit Hunian Tetap dan 1 Unit Gereja Bantuan Caritas Indonesia di Kelurahan Tukka
Bantu Perekonomian Warga, Kodim 0314/Inhil Gelar Bazar Murah dalam Rangka TMMD Ke-130
TMMD ke-130 Kodim 0314/Inhil Resmi Dibuka
Sinergi Membangun Desa, Bupati dan Dandim Tinjau Sasaran RTLH TMMD ke-130 di Desa Kuala Lemang
Perkuat Pembangunan Desa, Bupati Herman Buka TMMD ke-130 di Keritang
Kabut Asap Selimuti Palembayan, SDN 01 Pasar Palembayan Terapkan Belajar Dari Rumah 14-17 Oktober 2026
Miris! Jalan Pusat Kecamatan Palembayan Rusak Bertahun-tahun, Pasar IV Koto di Jantung Ibu Kota Kecamatan Mati Suri
Bupati Sashabila Widya Lufitalia Mus Tiba di Posko Darurat Desa Salati, Tampung Langsung Keluhan Petani Terdampak Karhutla
Berita ini 45 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 06:35 WIB

Sekdakab Tapanuli Tengah Letakan Batu Pertama Pembangunan 22 Unit Hunian Tetap dan 1 Unit Gereja Bantuan Caritas Indonesia di Kelurahan Tukka

Rabu, 14 Oktober 2026 - 04:49 WIB

Bantu Perekonomian Warga, Kodim 0314/Inhil Gelar Bazar Murah dalam Rangka TMMD Ke-130

Rabu, 14 Oktober 2026 - 04:44 WIB

TMMD ke-130 Kodim 0314/Inhil Resmi Dibuka

Rabu, 14 Oktober 2026 - 04:37 WIB

Sinergi Membangun Desa, Bupati dan Dandim Tinjau Sasaran RTLH TMMD ke-130 di Desa Kuala Lemang

Rabu, 14 Oktober 2026 - 04:16 WIB

Perkuat Pembangunan Desa, Bupati Herman Buka TMMD ke-130 di Keritang

Berita Terbaru

Berita

TMMD ke-130 Kodim 0314/Inhil Resmi Dibuka

Rabu, 14 Okt 2026 - 04:44 WIB