Banjir, Perusahaan Tambang, dan Absennya Nurani Kekuasaan di Aceh Selatan

- Penulis

Kamis, 25 Desember 2025 - 10:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir, Perusahaan Tambang, dan Absennya Nurani Kekuasaan di Aceh Selatan

Penulis: Sri Radjasa (Pemerhati Intelijen)

Mediainvestigasi.net–Bencana banjir yang berulang kali melanda Aceh Selatan bukan semata peristiwa alam. Ia adalah akumulasi dari kebijakan yang mengabaikan akal sehat ekologis dan nurani kekuasaan. Ketika air meluap, sawah rusak, rumah terendam, dan warga mengungsi, publik justru disuguhi ironi, bahwa pemimpin daerah memilih absen, sementara kebijakan strategisnya membuka jalan bagi kepentingan-kepentingan yang berpotensi memperparah bencana.

Kontroversi Bupati Aceh Selatan Mirwan MS yang berangkat umrah di tengah daerahnya dilanda banjir telah memicu kemarahan publik. Keberangkatan tanpa izin Gubernur Aceh, dengan alasan Aceh berada dalam status bencana hidrometeorologi, menegaskan adanya pengabaian terhadap tanggung jawab kepemimpinan. Sanksi pemberhentian sementara dari Menteri Dalam Negeri memang penting sebagai koreksi administratif, tetapi belum menyentuh substansi persoalan, yaitu krisis empati dan kegagalan moral seorang kepala daerah membaca situasi darurat rakyatnya.

Absennya pemimpin di saat krisis menjadi lebih problematis ketika dikaitkan dengan arah kebijakan yang ia tempuh selama menjabat. Dalam waktu kurang dari satu tahun, Mirwan MS tercatat menerbitkan sejumlah rekomendasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi. Empat perusahaan mendapatkan karpet merah, di antaranya PT Kinston Mineral Abadi dengan konsesi sekitar 4.000 hektare di Trumon Raya, wilayah yang secara ekologis dikenal rawan banjir musiman. Disusul PT Empat Pilar Bumindo, PT Aurum Indo Mineral, dan PT Sarana Interindo Mineral. Dua rekomendasi bahkan tetap dikeluarkan meski mendapat penolakan keras dari masyarakat setempat.

Kebijakan ini bukanlah kebijakan netral. Aceh Selatan merupakan kawasan dengan tingkat kerentanan ekologis tinggi. Data kebencanaan menunjukkan bahwa degradasi hutan dan alih fungsi lahan memiliki korelasi kuat dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir. Dalam konteks ini, pemberian rekomendasi tambang di kawasan sensitif bukan hanya abai terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan, tetapi juga berpotensi memperbesar risiko bencana di masa depan.

Baca Juga :  Mahasiswa Dharmasraya Gelar Sholat Zuhur Berjamaah di Gerbang Polres, Aksi Demo Masih Dihadang

Ironinya, di ruang publik Mirwan MS kerap menyuarakan dukungan terhadap tambang rakyat. Narasi tersebut terdengar berpihak pada ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat kecil. Namun hingga kini, tambang rakyat tetap sebatas wacana. Yang bergerak cepat justru perizinan untuk perusahaan-perusahaan besar. Diskrepansi antara janji dan praktik inilah yang memperkuat persepsi publik tentang adanya standar ganda dan politik rente dalam pengelolaan sumber daya alam Aceh Selatan.

Dalam tradisi kepemimpinan Aceh, pemimpin diposisikan sebagai pelindung rakyat dan penjaga keseimbangan alam. Kekuasaan bukan alat memperkaya diri atau kelompok, melainkan amanah untuk menjaga kehidupan bersama. Ketika kebijakan justru membuka ruang eksploitasi di tengah krisis ekologis, maka yang absen bukan hanya pemimpin secara fisik, tetapi juga nurani kekuasaan itu sendiri.

Persoalan Aceh Selatan hari ini tidak boleh dipersempit sebagai soal izin perjalanan atau kontroversi personal. Ini adalah persoalan struktural tentang bagaimana kekuasaan dijalankan dan kepada siapa ia berpihak. Negara dalam hal ini pemerintah pusat, perlu melangkah lebih jauh dari sekadar sanksi administratif. Evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pertambangan, penegakan hukum yang transparan, serta perlindungan nyata terhadap ruang hidup masyarakat harus menjadi prioritas.

Sebab, jika banjir terus datang dan kebijakan terus abai, maka suatu hari Aceh Selatan akan terus membayar mahal harga dari kekuasaan yang kehilangan nurani. Dan pada titik itu, bencana bukan lagi sekadar takdir alam, melainkan konsekuensi dari kebijakan politik yang salah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pertemuan Bersejarah di Istana Kerajaan Rabat: Menyongsong Era Baru Pemerintahan Maroko di Bawah Kepemimpinan King Mohammed VI
Menata Ulang Tata Kelola Peradilan: Memperkuat Peran Komisi Yudisial demi Keadilan Sempurna bagi Rakyat Indonesia
Majelis Hakim PN Cibinong Diduga Kuat Berpihak pada Pelaku Mafia Tanah
Pemerintahan Baru Maroko: Sebuah Dedikasi dan Visi Kepemimpinan Strategis untuk Kesejahteraan Bangsa
Polres Soppeng Gelar Operasi Sarang Narkoba di Tempat Hiburan Malam, Hasil Pemeriksaan Nihil
Misteri Ijazah Bupati Rohil .H Bistamam Belum terjawab: Ketua awi Rohil Desak polda Riau tegakkan hukum
TMMD ke-130 Kodim 0314/Inhil: Menyasar Kebutuhan Dasar Masyarakat Desa Kuala Lemang
Gus Muhaimin Hadirkan Rumah Bebas Asap untuk Pesantren di Pekanbaru
Berita ini 42 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 23:04 WIB

Pertemuan Bersejarah di Istana Kerajaan Rabat: Menyongsong Era Baru Pemerintahan Maroko di Bawah Kepemimpinan King Mohammed VI

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:59 WIB

Menata Ulang Tata Kelola Peradilan: Memperkuat Peran Komisi Yudisial demi Keadilan Sempurna bagi Rakyat Indonesia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:55 WIB

Majelis Hakim PN Cibinong Diduga Kuat Berpihak pada Pelaku Mafia Tanah

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:51 WIB

Pemerintahan Baru Maroko: Sebuah Dedikasi dan Visi Kepemimpinan Strategis untuk Kesejahteraan Bangsa

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:46 WIB

Polres Soppeng Gelar Operasi Sarang Narkoba di Tempat Hiburan Malam, Hasil Pemeriksaan Nihil

Berita Terbaru