“Batagak Kudo Kudo dan Katumbak” Dua Tradisi Khas Padang Pariaman Ditetapkan sebagai Warisan Budaya TakBenda Indonesia”

- Penulis

Rabu, 6 Agustus 2025 - 19:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Batagak Kudo Kudo dan Katumbak” Dua Tradisi Khas Padang Pariaman Ditetapkan sebagai Warisan Budaya TakBenda Indonesia”

 

 

Padang, Mediainvestigasi.net.- Kabupaten Padang Pariaman kembali mencatatkan prestasi yang memuaskan di tingkat nasional. Dua tradisi khas Minangkabau asal Padang Pariaman, yakni Batagak Kudo-Kudo dan Katumbak, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya TakBenda Indonesia (WBTbI) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

 

Sertifikat pengakuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, kepada Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, dalam sebuah seremoni resmi di Auditorium Gubernuran Provinsi Sumatera Barat, Selasa (5/8). Momen ini menjadi tidak penting dalam pelestarian serta pengakuan budaya lokal di tingkat nasional.

 

Dalam perayaannya, Bupati Jon Kenedy Azis menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih atas penghargaan ini.

 

“Warisan budaya seperti Batagak Kudo-Kudo dan Katumbak bukan sekadar tradisi, tetapi juga identitas dan jati diri masyarakat Padang Pariaman yang perlu dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Bupati.

 

Katumbak: Perpaduan Musik Multikultur

 

Katumbak merupakan ensambel musik tradisional yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Padang Pariaman. Musik ini lahir dari perpaduan beragam unsur budaya, seperti musik Minang, Melayu, dangdut, hingga India, yang menghasilkan karakter musikal unik—terutama dari sisi lagu dan aransemen.

 

Instrumen yang digunakan dalam pertunjukan Katunmbak antara lain:

 

 

Rabunian (harmoni), Gandang Katumbak (gendang bermuka dua), Mambo (gendang bermuka satu berbentuk kerucut),

dan Giriang-Giriang (rebana).

 

Instrumen-instrumen ini biasa dimainkan untuk mengiringi vokal dalam berbagai konteks budaya, mulai dari pertunjukan seni tradisional, upacara adat, hingga festival budaya.

 

Selain sebagai media pelestarian, musik Katunbak juga memiliki potensi untuk pengembangan seni kontemporer dan industri kreatif lokal. Pemerintah daerah terus mendorong terbentuknya kelompok-kelompok seni dan budaya sebagai wadah pelestarian serta pemberdayaan masyarakat melalui tradisi ini.

Baca Juga :  Pelaksanaan Kegiatan Kopdes Dan Ketapang Di Desa Jangan Ada Yang Bermain-Main, Harap Bupati Nias Utara

 

Batagak Kudo-Kudo: Filosofi Kuda dalam Tradisi Gotong Royong

 

Sementara itu, Batagak Kudo-Kudo merupakan tradisi yang erat hubungannya dengan nilai gotong royong dalam membangun rumah atau surau. Istilah ini berasal dari Bahasa Minang, yang berarti menegakkan kuda-kuda—komponen utama dari rangka atap bangunan.

 

Tradisi ini mencerminkan filosofi kuda yang memiliki empat kaki yang kuat dan tegap berdiri, sebagai simbol kekuatan dan kebersamaan. Proses Batagak Kudo-Kudo dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat setelah kerangka bangunan selesai dan siap dipasangi atap.

 

Melalui tradisi ini, masyarakat Padang Pariaman menunjukkan semangat solidaritas dan kebersamaan dalam membangun sarana perumahan maupun ibadah. Nilai-nilai tersebut masih terjaga dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat hingga kini.

 

Penetapan dua tradisi ini sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia semakin memperkuat posisi Padang Pariaman sebagai daerah kaya budaya. Selain menjadi kebanggaan, hal ini juga membuka peluang besar bagi pelestarian budaya, pariwisata, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan potensi budaya lokal.

 

***(Rafdy G /Kminf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.mediainvestigasi.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Srijaya keluhkan irigasi air kering kepada anggota DPRD OKUT I Ketut budiyasa pada saat Reses didesa
Ketua Investigasi LPK GPI Tegas Minta Hentikan Tambang Pasir Ilegal Air Beringin Jaya  Meluap Merusak Ruas Jalan Pemilik Tambang Di Tegur Malah Melotot
100 Siswa Keracunan MBG di Cirebon, Jawaban Pemerintah Kita Sudah Hafal
Bupati Nias Utara Terima Kunjungan Kerja Kapolres Nias Perkuat Komunikasi & Kolaborasi
Puskesmas Nggele Bukan Fasilitas Kesehatan Tapi Puskesmas Panggil Penjaga
Beli 7 Dapat 9 Kubik” – Pasir Proyek Kantor Wali Nagari 4 Koto Palembayan Jadi Sorotan, Wali Nagari Diduga Sopiri Sendiri
Bupati Bersama Ketua DPRD Hadiri Simposium Energi Nasional Deklarasi Ketahanan Dan Kemandirian Energi
Bupati Nias Utara Menutup Secara Resmi Open Turnamen Bola Voli Bupati Cup Nias Utara 2026
Berita ini 16 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Warga Srijaya keluhkan irigasi air kering kepada anggota DPRD OKUT I Ketut budiyasa pada saat Reses didesa

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:26 WIB

Ketua Investigasi LPK GPI Tegas Minta Hentikan Tambang Pasir Ilegal Air Beringin Jaya  Meluap Merusak Ruas Jalan Pemilik Tambang Di Tegur Malah Melotot

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:32 WIB

100 Siswa Keracunan MBG di Cirebon, Jawaban Pemerintah Kita Sudah Hafal

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:23 WIB

Bupati Nias Utara Terima Kunjungan Kerja Kapolres Nias Perkuat Komunikasi & Kolaborasi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Puskesmas Nggele Bukan Fasilitas Kesehatan Tapi Puskesmas Panggil Penjaga

Berita Terbaru